tanda baca
saya menulis tanpa koma. tanpa kamu yang bisa saya ajak bicara.
belakangan saya jadi paham mengapa dunia seakan menghimpit kebebasan saya.
itu karena dalam memori otak saya yang sembilan puluh persen mirip simpanse ini cuma kamu yang meninggali.
akhir-akhir ini saya sering menangis. seperti ketika saya mengiris daun bawang atau bawang merah kala masih sering mambantu ibu di dapur. air mata yang semakin lama semakin membuat mata pedih. kala itu saya pernah berpikir apakah karena getah daun bawang ini mata saya akan buta? mungkin kamu bisa menjawabnya karena sampai sekarang saya tak punya jawabannya.
saya menulis tanpa jeda. tanpa kamu yang bisa saya ajak bertukar pendapat.
tangan saya seperti gulita yang tersekap kala senja mendadak berjalan begitu lama. spasi titik koma dan segala macam tanda baca tak peka lagi. semua menjadi tak beraturan, semua menjadi berantakan.
beberapa hari ini saya meninggalkan kertas-kertas sketsa untuk menggambar. juga meninggalkan catatan-catatan yang biasa saya tuliskan sebelum berkencan. entah, jari tangan sedang lebih suka menari diatas layar sentuh yang abstrak. mungkin kamu tahu jawabannya jika kamu kembali nanti. karena saya sulit menjawabnya.
saya mengirim tanpa alamat. tanpa tempat yang bisa saya tuju untuk membaca hasil tulisan saya.
karena sejak kamu tidak ada, semua jurusan dalam peta dunia sepertinya menunjuk ke arah yang sama. sama-sama buntu. saya meninggalkan banyak buku tak bernama, draft setengah jadi, file menggantung setengah puisi setengah prosa, catatan tak berjudul dan... tanggal yang berurutan.
*catatan seorang penulis yang ditinggal sang editor.
belakangan saya jadi paham mengapa dunia seakan menghimpit kebebasan saya.
itu karena dalam memori otak saya yang sembilan puluh persen mirip simpanse ini cuma kamu yang meninggali.
akhir-akhir ini saya sering menangis. seperti ketika saya mengiris daun bawang atau bawang merah kala masih sering mambantu ibu di dapur. air mata yang semakin lama semakin membuat mata pedih. kala itu saya pernah berpikir apakah karena getah daun bawang ini mata saya akan buta? mungkin kamu bisa menjawabnya karena sampai sekarang saya tak punya jawabannya.
saya menulis tanpa jeda. tanpa kamu yang bisa saya ajak bertukar pendapat.
tangan saya seperti gulita yang tersekap kala senja mendadak berjalan begitu lama. spasi titik koma dan segala macam tanda baca tak peka lagi. semua menjadi tak beraturan, semua menjadi berantakan.
beberapa hari ini saya meninggalkan kertas-kertas sketsa untuk menggambar. juga meninggalkan catatan-catatan yang biasa saya tuliskan sebelum berkencan. entah, jari tangan sedang lebih suka menari diatas layar sentuh yang abstrak. mungkin kamu tahu jawabannya jika kamu kembali nanti. karena saya sulit menjawabnya.
saya mengirim tanpa alamat. tanpa tempat yang bisa saya tuju untuk membaca hasil tulisan saya.
karena sejak kamu tidak ada, semua jurusan dalam peta dunia sepertinya menunjuk ke arah yang sama. sama-sama buntu. saya meninggalkan banyak buku tak bernama, draft setengah jadi, file menggantung setengah puisi setengah prosa, catatan tak berjudul dan... tanggal yang berurutan.
*catatan seorang penulis yang ditinggal sang editor.

Comments
Post a Comment