hari ini
ketika saya berjalan ke kiri, kamu ke kanan. kita tak pernah saling tengok untuk menyamakan. tapi percaya jika didepan ada yang akan menyatukan.
rasional - irasional
saya menunjuk arah depan, kamu menyamping sekian derajat. dan jalan yang didepan semakin lama melebar. jauh yang tak pernah kita pertanyakan.
saya sabar
kamu juga.
tapi sampai kapan kita tak tahu, tapi sampai mana batas jarak itu tetap terarah - kita tak bisa menebak.
kedepan. saya dan kamu sama-sama tak bisa menengok. tapi kita terlalu bisa bertahan, hingga kita terlalu sering jadi peramal...
esok akan baik saja,
esok akan bahagia,
esok akan berakhir dengan cinta yang sempurna.
berhenti?
akhirnya kita menyerah.
berhenti.
pasrah?
kamu bilang itu bukan pasrah, tapi mengikuti jalan yang sudah diarah.
kamu tak suka banyak bicara - saya juga.
kamu tak suka berdebat - saya juga.
saya lihat mata kamu memerah, tangan kamu mengepal dan sekitar kita mendadak menjadi lebih hangat. tapi kamu diam. kamu menahan.
saya lihat mata kamu tak lagi tertuju pada saya, mata kamu sudah jauh meninggalkan jalan yang pernah kita papah. mata kamu lari dari kenyataan untuk mengatakan.
saya tahu tanpa kamu berucap, saya mengrti seribu rangkaian kalimatpun takkan mampu membuat air mata saya bertahan.
kamu terlalu paham kalau duka kita terlalu abadi untuk ditangisi, kalau takdir kita terlalu manis untuk diulang.
...
dan kini saya hanya tak mau itu terjadi lagi.
setelah tenggelam sangat lama di Vatikan, saya hanya ingin disini. disini. agar tak lebih banyak lagi merasa disakiti.
saat ini, saya tak ingin berlayar ke Nepal.
tidak untuk kedua kali.
dan seterusnya.
rasional - irasional
saya menunjuk arah depan, kamu menyamping sekian derajat. dan jalan yang didepan semakin lama melebar. jauh yang tak pernah kita pertanyakan.
saya sabar
kamu juga.
tapi sampai kapan kita tak tahu, tapi sampai mana batas jarak itu tetap terarah - kita tak bisa menebak.
kedepan. saya dan kamu sama-sama tak bisa menengok. tapi kita terlalu bisa bertahan, hingga kita terlalu sering jadi peramal...
esok akan baik saja,
esok akan bahagia,
esok akan berakhir dengan cinta yang sempurna.
berhenti?
akhirnya kita menyerah.
berhenti.
pasrah?
kamu bilang itu bukan pasrah, tapi mengikuti jalan yang sudah diarah.
kamu tak suka banyak bicara - saya juga.
kamu tak suka berdebat - saya juga.
saya lihat mata kamu memerah, tangan kamu mengepal dan sekitar kita mendadak menjadi lebih hangat. tapi kamu diam. kamu menahan.
saya lihat mata kamu tak lagi tertuju pada saya, mata kamu sudah jauh meninggalkan jalan yang pernah kita papah. mata kamu lari dari kenyataan untuk mengatakan.
saya tahu tanpa kamu berucap, saya mengrti seribu rangkaian kalimatpun takkan mampu membuat air mata saya bertahan.
kamu terlalu paham kalau duka kita terlalu abadi untuk ditangisi, kalau takdir kita terlalu manis untuk diulang.
...
dan kini saya hanya tak mau itu terjadi lagi.
setelah tenggelam sangat lama di Vatikan, saya hanya ingin disini. disini. agar tak lebih banyak lagi merasa disakiti.
saat ini, saya tak ingin berlayar ke Nepal.
tidak untuk kedua kali.
dan seterusnya.

Comments
Post a Comment