ada

 ada
 
saat saya berkawan sepi, mungkin kamu juga disini, memandangi saya dengan penuh perhatian.
hanya saya yang terkadang lebih suka menikmati secangkir kopi pahit ini sendirian, tak terbayang jika rasa pahit ini masih harus saya bagi dengan kamu.
kamu sudah cukup kesulitan menikmati rasa, selain rasa cinta yang masih kamu simpan.
kamu rela menyerahkan cinta dan peranakannya... semuanya. pada saya.
kamu mau menjadi apapun yang saya inginkan, bahkan jika saya meminta kamu menggantikan badut yang show di dufan pun akan kamu lakukan.
perlahan hidup kamu semakin terkotak, hilang dari ruangan satu dan ruangan yang lain. semakin lama semakin sesak, mungkin karena kamu  bernapas dengan satu paru.
ya, saya tahu, separuh paru yang kamu punya sudah kamu berikan pada saya, walaupun saya tak pernah menggunakannya.

kamu bilang menungguku adalah jalan hidup,
saya tak pernah memilih untuk berkomentar atau adu argumen, saya lebih suka menikmati angin. menanti kabut turun dari peraduan dan menanti bintang menampakkan cahaya malu-malu.

saya sering berjalan jauh didepan kamu, sampai kamu terseok-seok mengejar hingga mendapati saya berhenti melangkah dan bersandar diantara hujan.
kamu selalu siap menjadi mantel, menjadi jaket bahkan membatu menjadi bahu selamanya agar saya berhenti menantang hujan. kamu rela tak makan asal saya tak sampai meminta kamu untuk membelikan sepiring nasi goreng. kamu yang masih mau menjadi aspal untuk jejak langkah saya, yang entah akan berhenti dimana... dan pada siapa.

tapi kamu lupa,
lupa kalau saya pernah merasakan yang kamu bilang cinta itu, bukan pada kamu. kalau saya pernah berusaha sampai batas kemampuan saya untuk tidak menangis. kalau saya pernah rela dikucilkan. kalau saya pernah mau untuk diajak hidup susah. kalau saya pernah berani mengatakan iya untuk sesuatu yang akhirnya ditentang semua orang. kalau saya masih hidup pada rasa yang saya kenal lima tahun lalu. kalau rasa itu tidak saya punya selama kamu ada.

Comments

Popular Posts