lajur
lajur
sudah saatnya saya untuk berhenti. duduk dan menekuri hidup selama ini.
terlalu banyak hal tak berguna yang menyita waktu, memberondong sisa hidup dengan ucapan-ucapan tak santun.
saya mengerti, atau kamu juga mengerti?
banyak jalan yang telah saya habiskan untuk sampai pada jalan yang kamu pernah berikan. sebatas peta yang anonim.
saya masih seperti lima tahun lalu, seribu delapan ratus dua puluh lima hari yang lalu, sama seperti saat pertama kali jantung saya mendadak berdetak dengan lebih kencang dan tangan saya tak berhenti gemetaran. ketika jarak diantara kita tak lebih dari setengah meter. tak ada lima puluh senti meter.
saya masih buta kala itu, menganggap diri sebagai seorang mayoritas tanpa pernah menilik diri yang tengah berdiri sejajar adalah... minoritas.
hingga kamu harus menampar saya - menampar saya - dan menampar saya. dan bahkan saya tak juga tersadar. dan akhirnya mereka semua menampar saya, dan baru terasa sakitnya.
awet, hingga saat ini.
jika saya mengabadikan momen yang indah waktu itu, mungkin akan saya temukan milyaran zat sejenis formalin atau borax di dalamnya.
saat ini saya ingin memikirkan dengan penuh perhatian, ingin memikirkan kamu untuk yang terakhir kali, tapi saya nggak bisa janji.
'kenapa kamu nggak bisa berjanji?'
karena saya sama seperti kamu, yang juga tak bisa berjanji untuk memberitahu jalan pulang dari rumah kamu. saya terperangkap disini tapi kamu diam saja. malah menikmati.
'tapi kalau kamu berhenti maka jalan itu akan kamu temukan sendiri'
saya nggak ingin berhenti karena saya putus asa, saya hanya ingin berhenti karena kamu yang memaksa.
suatu hari nanti, akan tiba saat dimana mata yang pernah merekam kita bicara banyak. mulut yang pernah membicarakan kita melihat banyak... lebih banyak.
saya tak berjanji untuk benar-benar tak putus asa, tapi setidaknya saya berjanji untuk kamu. untuk ada disaat kamu meminta saya berhenti.

Comments
Post a Comment