malam kesatu

malam kesatu

seumpama hari ini adalah lelehan beku pasir yang mengalir dari laut ke bumi, maka aku ingin selamanya menjadi petani garam yang mengembalikan mereka ke muasal.
menahan dalam redup agar tetap temaram.
bergurau dengan hujan dan perih, bermesraan dengan angin dan peranakan garam.
banyak kata yang udara tak bisa saring agar didengar lebih santun, kamu harus punya blacklist dalam serentetan memori tunggalmu. agar tetap dapat hidup dalam keselarasan alam
namun jika kamu harus mendengar dan mengucapkan, maka tak apa. aku pun masih akan menahanmu agar tak terseret jauh kedalamnya.
maka sekarang dengarlah badanmu bicara, istirahatlah...
duduklah...
bersandarlah...
jika kamu merasa ingin terus marathon menghabiskan finish didepan sana, tantanglah matahari, aku ada didalamnya untuk menyuruhmu berhenti...
berhenti...
mati.
aku sudah siap denganmu, dengan butir keringat yang akan selalu kurindu dari dahimu, dengan asam mulutmu yang terlalu membuatku candu, dengan legam kulitmu yang membuat aku merasa lebih beruntung dari wanita lain yang pernah kamu kencani.
kamu akan dengar, setelah nada tunggu itu kau hentikan dan mulai menyimak,
'hai, selamat pagi. surga...'

Comments

Popular Posts