Mereka yang Tidak Perlu dan Kita yang Tidak Seharusnya
Saya
sepakat dengan Bambang Pamungkas bahwa tidak ada satu kemenangan pun yang
sebanding dengan nyawa. Semua orang mengutuk pembiaran atas tindakan keji
penghilangan nyawa orang lain di stadion, dengan alasan apapun. Jangankan sampai
menghilangkan nyawa orang lain, tindakan represif - agresif aparat yang
keterlaluan saja pasti membuat kita marah.
Atmosfir
menjelang pertandingan Maha Gengsi antara Persib melawan Persija memang sudah
memanas sejak beberapa hari sebelumnya. Dari mulai isu tidak dikeluarkannya ijin
pertandingan sampai isu mundurnya jadwal. Entah bagaimana suasana di Bandung
sana – atau di Jakarta, yang pasti sosial media sudah mendidih dulu dengan adu
postingan atau adu ejekan? Mereka bilang ini psywar.
Mengamati
dari twitter, entah saya yang tidak teliti atau memang belum ada kabar tersiar
bahwa ada supporter yang terbunuh di area stadion. Di tengah ribetnya kerja di
shift ke dua saya menyempatkan diri untuk menonton sisa pertandingan yang
semoga masih ada waktu. Sempat buffering beberapa saat hingga layar smartphone
saya memendarkan tayangan pertandingan Persib - Persija dengan skor 2 – 2. Saya
menarik napas dalam – akan kalah?
Baru
menonton di sekitar menit ke 70 sekian
dan dua tim sama-sama menyerang. Beberapa kali bikin peluang bagus. Termasuk
saat Atep ngasih umpan yang cucok banget ke tengah – ke Ghozali kalo saya nggak
salah. Tapi melambung. Tambahan waktu 4 menit – dan saya masih berharap ada
keajaiban, dan saya percaya itu. Kalo Persib mainnya butut udah saya tinggal
itu injury time pasti.
Tapi lihat semangat pemain dan penonton yang
sungguh bikin saya merinding padahal nonton dari layar – pun membuat saya percaya, satu gol akan
menutup sore itu dengan tangis bahagia.
Konsentrasi
saya pecah ketika seorang bapak mendatangi Nurse Station dan menunjukkan
kwitansi untuk mengambil obat-obatan. Dia terpaksa membuat saya berpaling dari
layar smartphone dan detik itu juga Malisic berhasil menutup laga dengan
gol penentu kemenangan bagi Persib.
Haru
seketika merambat membuat mata saya autoberkaca-kaca, hangatnya
kemenangan ini. Semua berpelukan usai pertandingan, pemain dan official kedua
tim. Beberapa terlihat bertukar jersey – mengguyur kami yang masih panas dengan
dingin yang menyejukkan. Sama sekali saya nggak berpikiran bahwa di luar sana
ada yang sedang meregang nyawa karena pertandingan ini.
Beberapa
saat setelah pertandingan-pun saya masih belum melihat ada yang memposting
perihal insiden kekerasan supporter tersebut, baru ketika saya menyelesaikan
jam kerja dan sampai di rumah saya lihat akun detik(dot)com mengabarkan bahwa
laga panas itu memakan satu korban jiwa.
Jujur saya agak nggak terima ketika itu, karena akun detik memang
terkenal agak bodor kalau memberitakan suatu peristiwa – seringnya belum tentu
jelas kebenarannya dan terkadang yang diangkat tidak penting dan judulnya
cenderung intimidatif, semacam clickbait.
Namun
setelah saya buka link yang disertakan lalu berbondong-bondong banyak yang
memberitakan kejadian serupa. Akun suporterpun satu persatu muncul, saya masih
menunggu tweet resmi dari Persib atau retweetan teman dari akun resmi Persija.
Dan memang betul, seorang supporter Persija, Haringga Sirila (23), dinyatakan
meninggal dunia usai dikeroyok beberapa (oknum) supporter Persib. Untuk
setiap aib yang tidak mungkin diakui, bahasa Indonesia menyediakan jalan ke
luar yang menyebalkan: oknum – Zen RS.
Saya
tidak akan berkomentar atau menulis layaknya seorang pengamat permengbalan.
Saya menulis sebagai supporter, sebagai pihak yang juga berduka dan autotersakiti
dengan insiden itu. Banyaknya akun non-suporter dan cenderung selebtweet ikut
berkomentar dan memperkeruh suasana membuat saya ingin sekali deactive
twitter. Tak apa ikut berkomentar, saya sadar betul ini adalah kejadian ke
sekian yang harusnya bisa diantisipasi. Tapi beberapa diantara para komentator
bola dadakan ini jadi men-generalisir, menganggap semua pendukung persib
se-brutal itu. Padahal tidak.
Ada
lagi seorang yang biasanya ngetweet politik karena saya follow dia, dia quote
postingan Viking Persib Club yang berisi koreo sore itu. Ndilalah
korenya ke-viking-viking-an gitu, padahal demi apa itu bukan satu cerminan
terus Viking atau bobotoh itu mau bunuh-bunuhin betulan supporter lawan atau
tim lawan. Semua tidak lain hanyalah psywar, seenggaknya ini menurut saya.
Entah kalo di mata orang-orang yang lebih ngerti bola gimana.
Masa
iya terus bawa poster tulisan ‘bungkam Persib’ atau ‘hajar Persib’, terus
pemain Persib betulan dibungkam mulutnya pake kain, atau dihajarin pemainnya –
officialnya sama pemain dan official lawan, kan enggak. belakangan koreo tersebut dijadikan bahan bagi mereka yang dadakan itu untuk menjadikan insiden ini layaknya air kobokan - keruh. padahal mungkin beberapa atau bahkan semua dari mereka juga penikmat bola tapi bukan sepak bola Indonesia.
sudahlah, jangan jadi amnesia.
Sungguh
saya berduka, sama seperti 2012 lalu ketika Rangga Cipta Nugraha juga meregang
nyawa di GBK karena nekat menonton pertandingan Persija VS Persib. Padahal saat
itu himbauan sudah dilakukan oleh kedua belah pihak, sama seperti kemarin. Agar
supporter tim lawan tidak nekat datang ke stadion demi keamanan dan keselamatan
diri. Tidak ada undang undang yang melarang seorang supporter mendukung tim
kesayangannya ke stadion, main home atupun away – memang. Tapi
jika sudah menyangkut keselamatan diri apakah kita bisa njagakke himbauan-himbauan
tertulis itu?
Tidak
bisa.
Akhirnya
yang ada hanyalah orang-orang terdekat yang diharapkan meredam dan menanamkan
kepercayaan bahwa kadar cinta pada sebuah tim sepak bola tidak akan berkurang
karatnya hanya karena tidak menonton pertandingan paling bergengsi di stadion
tim lawan. Aparat keamanan akan selalu ada, tapi takkan pernah sebanding dengan
jumlah supporter yang memenuhi stadion. mau menyalahkan siapa lagi? PSSI? liga? pemain? korban? tersangka?
Aksi (memaksakan datang) - Reaksi (tidak harus nyawa melayang) - (at)sesepakultur.
Percayalah, gagah-gagahan posting away
ke laga dengan tensi tinggi itu selain berisiko dan intimidatif – juga
menunjukkan kalau kita nggak punya mekanisme koping yang baik. Janganlah, sudah
cukup.
Demikian
semoga kita sadar karena inipun kesalahan kita juga – kekeliruan dalam memberikan
pemahaman pada orang terdekat tentang batas-batas rivalitas.

Comments
Post a Comment