Perempuan dan Konotasi
Belakangan ramai
banget yang bilang mengenai wanita dan kedudukannya sebagai makhluk sosial, eh
kok ribet ya. Ini menggelitik saya untuk menuliskan sepatah atau beberapa patah
kalimat yang sebenarnya kalau digabungkan ngga jadi patah juga. Yang bikin saya
tergemas adalah berita tentang Gitasav,
seorang travel blogger, singer (meski coverin lagu orang), sekolah
di luar negeri, menjadi salah satu brand
ambassador produk kecantikan dan pembawa acara travelling di sebuah stasiun
tv (mengenai profesi-profesi Gita yang saya sampaikan barusan tolong dikoreksi
kalau memang ada yang salah atau kurang sesuai).
Gita kenyang
menjadi bulan-bulanan netizen terutama di twitter yang terhormat dan pantang
salah. Seseorang yang merasa dicemarkan nama baiknya sama Gita ini melakukan screencapt
DM Gita ke dia yang salah satunya si Gita yang imho emosi banget, menuliskan
“nyet”. Nggak lama setelah itu ramailah orang-orang pada mencari tahu kenapa si
Gita sampai keluar nulis begitu. Netizen terpecah menjadi kubu pro-Gita dan kontra-Gita.
Drama ini
ternyata belum berakhir di kubu-kubuan, tidak lama kemudian dengan mudah ditemukan
tweet Gita di masa lalu lewat kolom pencarian twitter. Serentetan tweet beberapa tahun
silam ketika twitter belum se-hits sekarang ini discreencapt oleh kubu kontra-Gita.
Dari tweet-tweet itu kubu yang kontra menganggap wajar jika Gita sampai
melontarkan perkataan yang kurang pantas (menurut versi mereka), karena dari
dulu Gita memang suka pakai kata-kata demikian.
Tanpa bermaksud
berpihak pada kubu kontra maka saya yang penasaran lalu memutuskan untuk
scrolling kolom pencarian dengan keyword di atas. Hasilnya agak membuat kaget. Saya yang mengenal (bukan, tahu aja sih) Gita pertama kali
sekitar tahun 2013/14 saat menemukan channel youtubenya saat itu isinya
kebanyakan cover lagu barengan sama Paul. Saya kala itu kesengsem sama Gita
gara-gara dia coverin lagunya Utha Likumahuwa, Esok Masih Ada. Selepas itu saya
yang juga nggak ngikutin sosial
medianya, eh tiba-tiba lihat dia sudah berjilbab dan sekolah di luar negeri,
barengan sama Paul yang dulu jadi teman duetnya. Time flies ya gaes…
Menjadi
terkenal tidaklah mudah, setidaknya mungkin itu yang sangat ingin dikatakan
Gita pada haters mendadaknya. Ketika menjadi terkenal harus menyenangkan semua
orang, harus baik dan ramah pada semua orang, harus pintar mengontrol emosi, bisa menjaga diri dan
sikap. Beberapa diantaranya, saya sebagai yang mungkin (agak) seumuran dengan
Gita aja sulit untuk mengendalikannya. Beberapa orang bilang dengan jahatnya,
“kalo nggak siap terkenal ya jangan bla bla bla… kalo mau terkenal harus bisa
bla bla bla itukan risiko”. Im sorry, tapi itu sadis.
Kenapa sih perempuan
selalu identik dengan sesuatu yang negatif ketika dia emosi, misal dia emosi banget terus maki-maki orang
atau ngomel balik. Langsung tuh orang di sekitar akan bilang, “wanita kok
marah-marah sampai gitu. Nggak pantes”. komentar begini bukan cuma laki-laki loh, tapi
sesama perempuan juga nah loh kurang kejam apa. Padahal mereka punya hormon
yang sama di dalam tubuh ya kan, sama-sama estrogen dan progesterone, sama-sama
swing mood dan merasakan pahitnya pre
menstruasi syndrome, pedihnya
ovulation syndrome dan sakit hatinya kayak apa ketika menstruasi.
Ada yang
bilang perempuan mah gampang betul kalo disuruh pura-pura bahagia, menyimpan
kesedihan. Bukannya laki-laki juga? Tapi mungkin kebanyakan yang ketahuan
nangis diam-diam di pojokan ya perempuan, laki mah jarang, bukan berarti jarang
nangis, mekanisme kopingnya beda aja sih saya pikir. Perempuan jauh lebih perasa
dan hobi masukin hal ngga penting dalam hati, ngga sadar kalo kerak-kerak ngga
penting itu nantinya akan jadi karang yang bikin hatinya keras tapi rapuh dan
kena senggol sedikit luluh lantak. Laki lebih bisa mengalihkan perhatian ke
hal-hal yang mungkin dia suka, atau pergi jauh mungkin atau “nakal” sementara (jangan bully
gueeee).
Sebagai
individu yang ketika meluapkan emosinya selalu terkonotasi, saya rasa harus ada
yang diluruskan dari pola pikir masyarakat (ini kenapa jadi serius gini sih
bahasannya sedih saya tuh). Perempuan berhak untuk mengekspresikan diri
sebagaimana laki-laki, katanya. Demikian juga dengan hak perempuan untuk dapat
mengungkapkan apa yang dirasakan, menuangkan idenya, mengeksploitasi kemampuan
diri dan belajar mekanisme koping yang baik dan membela diri.
Dalam beberapa
hal terutama ketika perempuan menjadi objek, dia lantas dianggap ngga punya hak untuk
berpendapat dan hanya boleh menerima tanpa mengoreksi. Contohnya ketika wanita
jadi korban perkosaan, korban lho dia, objek yang ngga berdaya. Lantas dia hamil,
mau tahu respon orang-orang? Diantara sedikit yang benar-benar berempati, ada
yang dengan sadisnya menghakimi, apalagi kalau yang jadi korban adalah
perempuan yang di mata si ‘hakim’ itu perempuan yang suka keluar malam (padahal
mah kerjanya emang ada shift), cenderung berpakaian terbuka (menurut versi
mereka), dan tidak bergaul dengan tetangga.
Pernah dengar
ngga, orang
yang komentar ke korban perkosaan yang hamil, dengan: diperkosa kok sampai
hamil, itu sih sama-sama enak. Pingin tahu responku? BANGSAT! Sini berantem
sama saya. Terus ada lagi, lagian mbaknya pake baju ketat amat, ya pasti laki
pada pengen gituan.
HEH situ nggak
bisa masturbasi aja apa? harus ada lubang vagina perempuan asing yang dimasukin? Yang
paling bangke adalah begini, lah paling mbaknya juga udah ngga perawan, itu
jadi hukuman Tuhan lah buat dia biar tobat. Ya Lord, lubang vagina
yang dalamnya cuma ada
hymen yang jadi penentu keperawanan ini terkadang sungguh membuatku ingin
mencai-maki orang tolol yang bertebaran di muka bumi. Selaput antah berantah
yang jadi penentu bagi mereka untuk menilai si A perempuan baik-baik, si B
perempuan tidak baik-baik, si C perempuan baik tapi nggak mau dibaikin. Hukum
aku, hukum…
Aduh kembali
ke Gita yuk ah, ceu…
Gita itu
sebagaimana kita aja sih, saya deh iya, yang (masih) labil dan kadang suka
offside. Kalo dituntut sempurna ngga bisa, namanya manusia. Secara pribadi saya
memaklumi kejadian yang menimpa Gita namun cukup menyayangkan ketika serangan
yang kurang enak dibaca justru datang dari sesama wanita.
Beberapa dari
mereka menjelaskan dengan English campuran bahwa sebagai public figure
harusnya Gita punya kontrol yang lebih dibanding yang bukan, sebagian yang lain
mempertanyakan kelayakan Gita menjadi Brand Ambassador, yang lainnya
malah sibuk ngulik-ngulik masa lalu dan kehidupan pribadi dari gossip-gosip
kalau Gita ngga disukai sama anak-anak Indo di Jerman, pergaulannya yang ngga
terlalu nice, dll. Anjir kok jadi ngegosip sih.
Pembelaan yang
diposting Gita di instagram (entah sekarang masih ada atau engga) ngga bikin
orang-orang yang kontra dia paham dan mau mengerti sih. Seperti yang semua
orang di alam semesta jagad raya ini tahu aja, seseorang cuma mau mendengar apa
yang dia mau dengar, cuma mau tahu apa yang dia mau tahu. Kalo ngga mau dengar
baiknya, benarnya, klarifikasinya, ya selamanya sampai bumi dihujani coklat choco
crunch juga nggak akan mengubah penilaiannya. Gita berhak membela diri,
menuliskan panjang-lebar tentang harrasement yang dialaminya, kejadian ke
sekian kalinya yang akhirnya membuat dia tidak bisa tinggal diam. Tapi tetap
netizen terhormat berhak menilai dan menulis sesuka hati – sejahat apapun, toh
Gita-nya nggak tahu, kitanya nggak kenal langsung juga.
Gita, juga
banyak public figure lain yang mungkin juga punya masalah yang sama
dengan sosial media setelah kejadian ini pasti akan lebih berhati-hati dalam
memposting atau mengeluarkan statement. Apalagi dengan embel-embel sekolah di
luar negeri, yang menurut saya agak berlebihan ketika ada seorang wanita
menuliskan di twitter kurang lebih “high educated belum tentu well educated”.
Sayangnya gita
bukan Meghan Markle atau Kate Middleton yang dilarang punya akun sisoal media
dan cuma boleh berinteraksi langsung dengan sosial media yang dipakai di
internal kerajaan. Pantesan saya pernah cari akun instagram Meghan Markle kok
nggak nemu-nemu yang verified, ternyata oh ternyata sampai ibu-ibu kasidah
masuk magic jar semua juga nggak akan ditemukan.
High educated jatuh kepada
mereka yang
memilih tetap melanjutkan studi di tengah hingar-bingar panggung sebagai
influencer atau vlogger full time. Well educated nggak harus mereka yang HE, beberapa travel blogger
yang saya tahu juga ngga sekolah tinggi untuk bikin konten bagus rapih cociks
plus good attitude. Di antara banyak juga vlogger yang vulgar dan terkesan
offside mengekspose ketenarannya ke publik, sih. He, he. So, Gita cuma perlu
terus melangkah, ngga berhenti di sini dengan cacian, karena banyak juga kubu
yang pro kan seperti yang saya bilang tadi. Support system.
Belakangan
malah saya liat di twitter ada yang posting kalo Gita ini terpilih jadi youtube
creator ambassador atau apa gitu, intinya doi ini memang konten-konten di
youtubenya bagus dan positif, juga mengundang orang lain ke jalan yang benar
menurut versi Gita. Nyatanya sampai kepilih tuh. Kan keren. Sementara orang
sibuk celain dia, dianya moving forward aja gitu, bussy enjoying her life and
her money. Ha, ha.
Tapi apalah
arti konten yang semarak jikalau attitude dalam pergaulan sehari-hari tak nice?
Pintar cakap depan kamera, manis muka depan kamera tapi masam pada sebaya.
Bangsat, ini bahasa apa sih. Sorry gaes.
Masalahnya
adalah ketika seseorang dipuji habis-habisan di sosial media oleh fansnya maka
akan muncul orang-orang di circle dia yang berkomentar, atau nyindir.
Komentarnya bisa komentar positif macam: iya si A emang baik banget kemarin gue
ketemu dia di Mall, eh dia masih mau nyapa gue padahal kita udah sejak lulus
PAUD nggak pernah kontak-kontakan. Atau:
buset si B parah deh dermawan dari orok emang, seminggu lalu gue lagi nemenin nyokap
ke IKEA ketemu dia eh dibayarin semua belanjaan nyokap gue. Atau gini: ya emang
cantik dari sononya sih si C ini, bayangin aja setiap cuci muka dia bukan Cuma
pake sabun muka aja tapi pake sempalan emas batangan diusap-usap ke muka gitu,
gue pernah waktu main sama dia disempalin emas batangan buat cuci muka, eh muka
gue jadi berkarat. Emang dasar muka kere aja guenya.
Oke sekian halu-nya ya
sodara-sodara…
Jangan tanya
komentar yang negatif atau yang nyindir tuh kayak gimana, saya rasa kalian bisa
simpulkan. Sebagai warganet yang gemar berpikiran negatif dan otak dipenuhi
sampah-sampah iri dengki pada kesuksesan dan ke-famous-an sesama, aku
paham kalian lihai memberikan contoh.
SU’UZON kamu mbak!
Kasus Gita ini
peringatan yang nyata buat kita, saya khususnya sebagai perempuan bahwa rasanya
ini adalah saat yang tepat untuk lebih memahami sesama perempuan. Ada
komentar-komentar tanpa empati yang harus dikurangi, tanpa memandang siapakah
dia, kenalkah dengannya, adakah masalah pribadi. Karena disitulah power yang
dimiliki para perempuan untuk berani speak up terhadap diskriminasi dan
harrasement yang dialaminya.
Bahwa tidak
semua perempuan berani dan memutuskan untuk melawan, sebagian masih berpikir
panjang dan akhirnya memutuskan untuk diam. Karena? Ya karena enggan dianggap
“perempuan kok sensian” atau “perempuan kok baperan”.
Dah, ah,
segini aja. Tegur saya jika banyak yang typo dan kata-kata kasar, maklum lembur
dan nggak punya editor.

Comments
Post a Comment