Ginan...


Kami saling mengenal dari sosial media, bertukar kontak dan berkomunikasi dari dunia maya. Dia yang famous dan saya yang bukan apa-apa. Dengan intensitas berhubungan yang tidak sering, dia berhasil membuat saya tergugah atas banyak hal. Saya seperti tercerahkan olehnya. Terima kasih, di awal tulisan ini a’ Ginan.

Saya lupa-lupa ingat mana dulu urutan antara, Homeless World Cup – Rumah Cemara – teman saya, Agidia – Ginan. Yang pasti empat hal itu saling berkaitan. Seingat saya  kala itu, untuk pertama kali mendengar Homeless World Cup, sepaket dengan Rumah Cemara dan Ginan Koesmayadi. Penasaran akut membuat saya mencari tahu tentang RC melalui web-nya dan twitter, juga instagram. Sosial media inilah yang akhirnya membawa saya pada akun-akun yang sampai sekarang terus saya ikuti.  Mereka yang memperkenalkan saya pada hal-hal baru mengenai HIV-AIDS dan terapi yang dapat diusahakan bagi ODHA. Hal yang saya dapatkan sekilas saja di bangku kuliah.

Menjalani pendidikan di kesehatan tidak serta-merta membuat saya auto-tahu, malah semakin ke sini semakin saya sadar bahwa banyak yang harus dicari tahu sendiri. HIV-AIDS menjadi salah satu penyakit yang selalu bikin (saya dan teman-teman praktek klinik di Rumah Sakit) penasaran. Hasrat antara ingin tahu yang besar seorang praktikan dan rasa takut karena hanya paham setengah-setengah.

Pengalaman saya dengan ODHA yang pertama adalah ketika saya masuk tingkat dua di praktek Medikal Bedah. Saat itu beberapa ODHA ditempatkan di ruang isolasi menghindari ia terpapar penyakit dari pasien lain karena daya tahan tubuhnya yang rendah. Di praktek berikutnya saya juga bertemu dengan ODHA, namun kali ini dengan petugas bangsal yang berbeda.  Di sinilah saya mulai tahu jika ada beberapa petugas kesehatan itu sendiri yang, antara tidak paham atau tidak mau tahu – bagaimana dalam memberikan pelayanan pada pasien dengan HIV-AIDS. Juga untuk kali pertama saya paham, dengan mudahnya orang memberikan stigma pada ODHA, bahkan petugas kesehatan itu sendiri.

Diskriminasi itu nyata terasa, bahkan di tempat yang seharusnya mereka diperlakukan sama. Saya membayangkan Agidia, yang harus berjuang diam-diam, sendiri - tanpa dukungan orang terdekat. terasa sulit bagi saya untuk biasa saja, tulisan tentang Agidia sudah pernah saya posting beberapa tahun yang lalu.

Lalu Ginan mulai mencuri perhatian saya, setelahnya sebuah buku yang ia tulis bersama Sundea rilis pada 2014. Buku itu semakin membuat saya merasa kerdil, ada di antara begitu banyak manusia yang membutuhkan pertolongan tapi tak berbuat apa-apa. Dan Ginan di tengah segala keterbatasan berusaha terus memberikan manfaat dan menebar semangat. Saya percaya hidupnya jauh sekali lebih berfaedah bagi orang lain dibanding saya, yang secara fisik lebih sehat dari dia.

Saya kagum pada semangat dan perjuangannya yang tak pernah padam. Mungkin kadang meredup dan sisi lemahnya sesekali ia perlihatkan pada orang-orang terdekat, tapi sedikitpun tak menghapus ceria dari wajahnya. Pembawaannya yang ramah di setiap postingan dan ketika berkomunikasi membuat dia selalu dirindukan. Saya merindukannya bahkan ketika kami belum pernah berjumpa secara langsung.

Kini saya semakin menyadari, segala yang takkan kembali memang sudah terindukan sejak pertama kali ia mengucapkan selamat tinggal. Penyesalan selalu di belakang karena kalau di depan namanya jadi pembukaan. Selamat bertemu dengan Bule dan Miguel. Saya percaya a’ Ginan tak ke mana-mana, selalu ada - di manapun semangat dan kebaikan itu pernah ditebar.

Segenap doa baik selalu untuk a’ Ginan dari semua yang ditinggalkan dan yang akan selalu mencintai tanpa usai.
Saatnya menuai. Damai senantiasa dalam cinta, a’ Ginan…

Comments

Popular Posts