Mari, Mulai Lagi


Saya selalu ada masalah pribadi dengan memulai, apapun. Itu juga yang terjadi ketika saya mau kembali menghidupkan blog ke sekian yang mati suri ini. Menulis tapi ngga diposting adalah masalah saya selanjutnya, yang kemudian membuat saya sadar bahwa terlalu banyak masalah memang berpengaruh pada mekanisme koping dan kesehatan pencernaan.
Butuh ditampar dengan banyak kejadian sampai akhirnya sadar bahwa mekanisme koping saya sangatlah buruk, belajar tiga tahun ngga membuat saya menjadi pribadi yang mampu mengatasi masalah dengan bijaksana. Drama ala anak-anak twenty something yang baru-barunya membuka diri untuk dunia luar masih terus menikam. Ngga mudah melepaskan diri, bahkan setelah membuka (diri) seluas-luasnya untuk dunia luar-pun. Akhirnya pelajaran pertama didapat, membandingkan diri dengan orang lain akan membuat saya tersesat.
Kelihatannya di awal-awal menyenangkan selalu terlihat seperti orang lain dengan menyamakan diri meski akhirnya kehilangan jejak juga, ternyata ada sisi-sisi yang ngga bisa ditiru dan dibuat-buat. Sisi yang saya terlambat menyadari hingga harus tertatih mencari pembenaran diri.
Saya menganggap ini adalah masa dua puluhan awal yang semua perempuan juga mengalami, tapi hati kecil saya mengatakan ini bukan hal yang lumrah, ada semacam ketidaksukaan yang terbit secara alamiah dalam diri untuk menjadi seperti orang lain dan jika tidak bisa maka saya akan membencinya – bukan membenci diri saya sendiri. Maka jadilah hidup yang semakin rumit, bisa lah dibayangkan typically anak kuliahan yang tiap hari nggarap tugas sambil galau ngga guna.
Belakangan saya sering denger orang bilang, perempuan itu biasanya lebih galak ke perempuan lain. Atau, perempuan justru jahat ke sesama perempuan. Berkaca dari banyak kejadian di mana seorang perempuan kena kasus atau dia posting sesuatu di sosial media lalu menimbulkan pro-kontra, pihak kontra yang komentarnya paling pedas adalah dari sesama perempuan. Entah ya, apa karena sama-sama perempuan lalu merasa wajar dan wajib berkomentar jahat?
Saya lalu melihat ke diri sendiri, tidakkah saya juga melakukan hal yang bisa dibilang sama? Meskipun dulu ngga berupa komentar tertulis di sosial media, hanya semacam perasaan membenci dan envy. Tapi saya simpulkan itu sama aja, hanya karena tidak ikut berkomentar tertulis bukan berarti ngga kontra juga, kan.  Hanya karena tidak saling mengenal bukan berarti ngga membenci, kan? Justru karena ngga saling kenal jadi dianggap wajar-wajar aja dan ngga punya tanggung jawab moral untuk menghormati atau menghargainya. Serius, ini memang jahat, Rangga.
Scrolling-scrolling komentar di sosial media saat nikahannya Putri Marino, story Nana Mirdad bersama porter, postingan fotonya Raisa yang pakai baju/dress warna nude, foto Oki Asokawati yang mengenakan manset warna nude juga, lalu foto Yuni Shara yang attired pakaian adat, kasus Via Vallen dan Gitasav, dan masih banyak lagi. Nyata banget, jempol perempuan memang jahat ke sesamanya.
Saya yang juga ngga luput dari cela ini juga terus berusaha untuk mengurangi nyinyiran-nyinyiran ngga penting cenderung agresif ke sesama perempuan. Untuk ngga ikut komen memang bikin gatel, tapi bisa-lah kalo dicoba untuk membayangkan ada di posisi orang yang akan dikomentari kalo mau berkomentar. Coba kalo saya jadi dia, mungkin saya akan melakukan hal yang sama, bisa jadi. Termasuk ketika dicurhatin teman atau diminta pendapat mengenai masalah yang sedang dihadapi, sih. Mencoba duduk menjadi dia sebelum memberikan pendapat bisa mengurangi kasih makan ego. Memulai, memang sulit.
Nyatanya ngga jarang saya bertemu dengan orang-orang yang kalau dicurhatin lalu kasih solusi atau komentar yang demanding, misal: temannya ada masalah sama pacar bla bla bla, merasa sebagai teman atau (jahatnya) hanya ingin dia putus aja lalu bilang, ya udah putusin aja laki-laki/perempuan begitu buat apa dipertahankan. Lah? Kan, maksa.
Intinya belajar untuk ada di posisi orang yang akan dikasih pendapat adalah penting banget. Sekarang saya menyadari ini setelah mengalami banyak pengalaman tidak menyenangkan, sama seperti semua orang di dunia ini yang juga berjuang dalam hidup beserta masalahnya masing-masing.
Semua orang punya batas-batas yang tak boleh dilangkahi. Cukup jaksa yang menuntut terdakwa, saya tidak berhak menuntut apapun kepada siapapun. Tanggung jawab itu disadari lalu dilaksanakan sesuai situasi dan kondisi, tanggung jawab itu milik setiap orang. Merasa kurang, merasa tidak pantas, merasa tidak layak, merasa tidak adil – mungkin betul, orang memang punya titik rendah diri-nya masing-masing.


***ini tadinya mau bikin postingan tentang A' Ginan. tapi ngga sanggup nulisnya. mungkin, nanti :)

Comments

Popular Posts