ralat: bukan cinta (by: Windy Ariestanty)
Iya. Hampir saja. Siang itu begitu membara. Aku bahkan tidak tahu, apa yang menggerakkan kita. Dengus napas panasmu yang memburu, atau gesekan kulit yang lengket karena keringat. Kaubilang, mungkin karena bibirmu rindu disentuh bibirku.
Hahaha.
Masa iya? Bukankah semuanya sudah jelas buat kita. Cerita kita sudah usai. Selesai pada waktu yang kita pilih: dua tahun yang lalu. Lantas, kenapa juga masih mendamba?
Kau tak menjawab. Tentu saja. Sebab kau bahkan tak mendengar apa yang sedang aku bicarakan. Matamu terpejam. Bibirmu menjelajah leherku. Pelukanmu semakin erat. Entah kenapa, aku justru merasa semakin ciut.
I. Love. You.Kaubilang itu di ujung ciuman panjangmu. Setelah gigitan basahmu di telingaku. Kau bahkan tak menyisakan ruang bagi udara di antara tubuh kita yang kian merapat.
Shit!
Apakah kaudengar umpatanku? Maaf, aku bukan kekasih yang romantis. Bukan pula perempuan yang manis. Harusnya, aku menjawab itu dengan kenes, ‘I love you, too’. Tapi, ini sebaliknya. Aku mengumpat pedas.
Aku tak ingin minta maaf sebab telah menjawab cinta dengan tahi. Aku hanya meminta maaf untuk ketidakromantisanku sebagai kekasih. Tidak. Ini bukan masalah ego atau gengsi yang selalu kita ributkan di tahun-tahun lalu. Mana berani aku bilang cinta, sementara sebagian dari hati kecilku sendiri ragu, bahwa ini hanya semacam… ya, semacam cinta, mungkin?
Maaf, aku bingung mencari padanan kata untuk itu. Nantilah, kubuka kamus. Mungkin ada di dalam kamus serapan tentang sesuatu semacam cinta.
Sayang, kalau kaubaca ini, aku hanya ingin mengajakmu lebih realistis. Cinta tak melulu terasa manis. Ia bisa miris. Kata cintamu membuat aku semakin mempertanyakan cinta. Percintaan dan persetubuhan pastinya beda, bukan? Apakah kau yakin, persenggamaan ini adalah sebuah percintaan atau tak lebih dari persetubuhan? Sekadar tubuh yang bergesek dan saling memuaskan, atau cinta yang memberi dan saling meluaskan?
Bukannya aku menganggap kau seorang pembohong. Untuk sebuah kata cinta di sela-sela ‘pergumulan’ panas kita, di antara deru napas yang memburu karena nafsu, kau terdengar naïf karena percaya dan mengucapkan semua itu sebagai cinta. Setidaknya, bagiku.
Mari bicara jujur. Aku pikir, apa yang kaurasakan bukan cinta.Aduh, aku bayangkan, kalau kuucapkan ini di depanmu tadi siang, keningmu pasti langsung berkerut. ‘Susah banget sih mau mesra-mesraan ama elo!’ begitu sungutmu. Dan pelukanmu pasti mengendur. Lalu, aku akan memainkan cuping hidungmu dengan jari telunjukku. Mencoba merayumu, agar mau mendengar apa yang aku bicarakan. Kautahu, aku selalu merindukan ‘percintaan’ yang panas dengan percakapan yang intens. Tapi, siapa pula lelaki yang mau melayani pertanyaan-pertanyaanku di sela gemuruh berahinya?
Dan kau akan bilang, ‘Bisa nggak sih lo berhenti mikir pas lagi “beginian”?’
Lelakiku, tahukah kau, aku selalu tersenyum bila mendengar umpatan di sela ciumanmu? Kau terganggu. Tapi, kau juga mencandunya, kan? Akui saja!
Oke. Siang tadi, aku tak ingin menjelma menjadi mantan kekasih yang tak mesra. Setelah sekian lama tak bersua, rasanya tak lucu juga kalau aku merusak ‘interaksi’ kita siang tadi dengan pikiran-pikiran yang melintas di otakku.
Jadi kuputuskan;
untuk diam hingga bibirmu berhenti mencumbu dan tubuhmu tak lagi memelukku.
Sayang, aku tidak sedang menertawaimu. Aku hanya ingin tahu, apa yang kaupikirkan seandainya kubilang ini tidak lebih dari naluri binatang? Keinginan kita untuk keluar dari rutinitas. Mencicipi dosa yang membuat kita terlihat seperti dua orang pembangkang yang berusaha mengibuli dunia. Dua orang pendosa yang merayakan rahasia kecil di antara mereka dan bahagia karena berhasil menyimpannya.
Huh. Jangan khawatir. Aku tak akan tersinggung seandainya ini memang benar bukan cinta. Aku bahkan nyaris yakin, ini bukan cinta. Ini berahi, ini naluri liar kita.
Cinta tak pernah salah. Hanya saja, ia terkadang datang terlambat, atau sialnya lagi, salah alamat. Ketika itu terjadi, ia menjelma menjadi nafsu yang kemudian kita labelkan cinta.Kau setujukan kalau manusia itu makhluk penuh intrik? Zoon politicon, kata Aristoteles. Agar tak terlihat murahan, kita menganggap persenggamaan ini sebagai persekutuan suci dengan mengatasnamakan cinta. Kau-aku hanya ingin terlihat sebagai manusia yang punya cinta, dan tidak diperbudak nafsu. Dengan demikian, kau dan aku menjadi benar dan bermartabat, serta tentu saja, tidak bejat.
Lelakiku, kalau kaubaca ini, aku tak tahu apakah kau akan tersinggung. Kalau setelah ini, kauputuskan untuk tak lagi menemuiku, buatku, itu tak apa. Tapi sungguh, aku hanya ingin jujur.
Inilah yang membuatku berhenti menciummu, tadi siang.
Lelakiku,
kita hampir bercinta.
Oops. Ralat.
Kita hampir bersetubuh. Siang tadi. [tigabelas]
Jakarta, satu hari di bulan Juli, 2008
*)picture taken from www.gettyimages.com
***
di atas itu adalah tulisan Mb.W ( @windyariestanty ) tahun 2008 yang tadi malam dia shared lagi di twitter.
dengan alasan, gua pengen reblog tulisannya ini. ya, dengan alasan.
membenarkan apa yang ditulis Mb.W itu mungkin.
entahlah, terlalu banyak lelaki yang menganggap cinta adalah bercinta. persetubuhan adalah tanda percaya pada pasangan.
selamat baca, dan harusnya tahu pesan dari perasaanku.
:)

Comments
Post a Comment