Finally Posted...
Aku ingin berteduh. Lalu pulang dengan nafas yang tak lagi memburu.
Keadaan ini memaksaku terlambat panas bahkan terlalu sumpek untuk berpindah.
Alasan membuatku membuang usia percuma.
Bukan inginku, seperti yang kau juga tahu. Bukan ingin kita seperti yang aku tahu. Tapi situasi mengharuskan kita bermain hati tanpa tahu mana tepi.
Aku dalam kesalahan yang takkan satupun akan berada di sisi ini untuk berdiri, selain diriku sendiri bahkan juga dirimu.
Sendiri seperti ini lebih tak tahu diri dibanding sebelumnya. Sampai terlintas mengakhiri dengan mati. Jahat tapi sakitnya kamu tak akan bisa bantu apa-apa. Aku berperang dengan diriku sendiri, dan waktu yang akan membikin semua orang bosan untuk menunggu.
Akupun tadinya memikirkan hal yang sama. Tapi bukan saat ini. Sekarang aku tidak lagi bosan, kutunggu sampai ia menyerah dan kalah.
Tidak juga aku menang sebenarnya, setidaknya ada ruang untuk merasakan bahagia di akhir-akhir hidup yang takkan lagi lama.
Terlalu banyak daftar keinginan yang belum terealisasikan, lalu bagaimana dengan hidup singkat yang masih dipotong untuk berpura-pura bahagia dan suka ini? Membuang waktu untuk tertawa yang sia-sia, mengumbar detik untuk tidur dan bekerja dengan perasaan yang tak lagi bisa diajak kompromi.
Kalau bisa bicara dengan bahasa lebih jujur dari omongan seorang anak yang harus menghormati orang tua, ia akan bicarakan sejujurnya saat ini detik ini juga tanpa menunggu nanti.
Bahasa keluarga kadang memenjara. Terpenjara lalu mati dan masih harus sekarat dalam kubangan pasca kematian. Mati yang rugi. Kata penjual cilok yang lewat.
Menjadi produktif kadang merisaukan, inilah berarti harus kembali mengaktifkan kegalauan masa lalu dan hanya mengganti subjeknya dengan yang sekarang? Pertanyaan tanpa jawaban, karena jawabannya adalah pertanyaan itu sendiri yang kamu tahu, bukan, aku yang tahu.
Kalau nanti suatu senja kita bisa bersama, aku berdoa dari sekarang, semoga jalan ke mananya kita akan terlihat dari sana. Bukan menungguku senggang, bukan menunggumu senggang, tapi menunggu Tuhan senggang dan akhirnya sempat membikin kita bersua.
Cerita ini kutuliskan jauh hari sebelum kita berjumpa, aku kini bak cenayang yang visioner mengerti akan bagaimana dan bagaimana. Jangan percaya, kadangkala rencana tak seindah nyatanya, aku sampai muntah-muntah memercayainya.
Sudah?
Belum. Aku belum mau berhenti menulis. Kamu alasan untuk terjaga dini hari ini. Drama? Iya, bisa jadi bisa jadi.
Dengar, ini akan menyakitkan, buatmu. Buatku ini sudah biasa, dilukai banyak orang yang kucinta, dipaksa bahagia, dihadapkan pada lingkungan yang tak menyertai, lalu menangis sendiri di pojokan saat di rumah tak ada orang. Sudah biasa. Pojokan itu sudah hafal kapan aku akan menggelengsot padanya dan menangisi yg tak bisa kuubah dengan tangisan.
Bukan. Aku bukan menangisi siapapun. Aku menangisi kemalangan diri sendiri yang lupa dan kehilangan cara untuk tersenyum sepenuh hati.
Comments
Post a Comment