Unseen

"banyak yang terlewat beberapa hari belakangan. ada yang selalu hadir tapi terasa kosong, ada yang sudah tak pernah melintas sengaja di kepala tapi terasa masih mengisi" - post.

tidurlah lelaki ini dengan malam yang nyaris pagi. 03.00. bukan waktu yang butuh dimaklumi untuk mulai menjemput mimpi. tapi dia terlalu sering tidur dini hari, entah menghabiskan waktu dengan tulisan yang akhirnya hanya selesai sebagai draft atau dengan siapapun yang masih rela terjaga untuk diajak mengobrol. smartphone membuat segala kebiasaan mengembang jadi luas luar biasa. kebiasaan yang orang bilang 'selingan'.

"sekembalinya kau dari dunia yang pernah membuatmu jadi Ksatria. ada aku yang susah payah memapah saat dayamu habis di luar angkasa, memberimu segelas air yang membawamu kembali ke dunia sekarang. dunia yang selalu kamu lupakan demi yang telah lalu" - post.

seseorang masih dengan lipatan buku dan cahaya smartphone yang berpendar-pendar. ingin ia tidur, tapi ia tak mau tidur karena esok harus bekerja. 'aku harus mengantuk', katanya selalu. tapi dini hari macam apa yang mau membekapnya dengan kantuk? 03.00 dari tempat wanita ini duduk diatas ranjang dengan mata yang masih awas dan telinga yang mendengar setiap jentikan jari ke layar sentuh. ingin dia tidur, tapi bukan karena disuruh. terang di luarlah yang bisa membuatnya mengantuk, lalu memeluk mimpi lebih siang dari yang lain.

"aku bertemu denganmu lagi, dalam kenangan yang pernah kuyakinkan akan jadi percikan api. dan aku tak mau main lagi. tapi kamu selalu muncul menjadi bahasa yang indah untuk membuatku semakin tenggelam dalam masa silam, aku tak ingin terbangun kalau bisa. tapi aku harus terbangun" - post.

langkah kaki semua orang menjadi lebih buru-buru ketika matahari semakin tinggi. asap kendaraan di mana-mana. tangan yang mengibas dan mulut tertutup masker di sana-sini. di tempat dengan ruangan ber-AC, seorang lelaki masih belum bangun dari masa yang sudah ditinggalkan. semua suasana selalu membawanya kembali. mungkin sesungguhnya ia ingin dan tak mau pulang lagi dalam dunia yang menuntutnya ada saat ini. dia mati saja, kalau sadar. cahaya komputer tidak mengusiknya, jalanan di luar sana lebih menarik perhatian. diam-diam ia berdoa, di tengah tukang parkir yang sudang kepanasan, ibu-ibu penjaja rokok yang berteduh kepayahan, ia berdoa menemukan jalan untuk tak lagi harus ada di dunia yang diyakini tak akan membawa kebahagiaan.

"berhentilah karena kau lelah. bukan karena aku menyuruhmu menyerah. buat dirimu selelah mungkin hingga tak mampu lagi berjalan. maka aku mungkin akan masih ada di persimpangan putus asamu untuk kembali mengambilkan segelas air. mengantarmu lagi pulang ke dunia yang basah oleh air hujan, bukan kenangan yang lembab dengan air mata dan air yang lain. atau jika tak lagi kau temukan aku di sana, di persimpangan itu, sebutlah namaku seperti film yang pernah kau tonton. mungkin aku kan hadir di situ, tapi bukan dengan segelas air penampar dahaga. melainkan dengan pertanyaan yang sama, 'apakah yang kau banggakan dari menuliskan masa lalu sepanjang hari?', ya, mungkin saja" - post.

wanita dengan blouse biru gelap itu melenggang sambil menenteng tas. meninggalkan ruangan yang sedari pagi membekap. langkahnya masih berat menaiki lift, pandangannya ungu, beberapa kali tangan kirinya menyibak rambut, resah.

*

bangku cafe masih kosong di sana-sini, tapi dua orang ini memilih tempat yang sama untuk duduk. satu meja mereka, berhadapan dengan dua cangkir kopi yang menyisakan noda gelap di ujung bibir cangkir. tak ada suara manusia, masih enggan ego menahan diri untuk tak berdiri di depan.
lelaki dengan sepatu Lacoste ini lalu terbatuk kecil, mencoba meyakinkan apakah mereka masih ada di dunia yang sama dan boleh saling memulai sapa.
cangkir kopi sang lelaki melayang membasah di tenggorok, pahitnya sudah tak terasa meski ia lupa mengambil pack gula di meja depan kasir. pahit sudah ia telah jauh waktu sebelum menginjakkan kaki dan menemui wanita di hadapannya.
mendadak suhu ruangan menjadi lebih dingin, blouse pendek yang dikenakan sang wanita jadi seperti senjata makan tuan. terlihat jaket di depannya akan sangat hangat untuk jatuh ke pelukan, ia membenarkan posisi duduknya, menenangkan gelisah. matanya mencari yang dapat membuatnya lancar berkata-kata. direguknya kopi dengan gugup yang masih sama, seperti beberapa saat lalu.

sunyi beberapa waktu menjerat mereka dalam bahasa hati yang sudah sama-sama tahu.
sunyi membisikkan rangkaian kata yang sudah dilatih malam sebelumnya, kata cinta yang sudah tak lagi tertampung untuk saling menerima. kata sayang yang terlalu manis untuk ditulis dalam kartu ucapan. dan kata sudah, untuk sama memahami kalau kebersamaan memang harus dipupuk setiap hari, bukan denngan media apapun selain dua manusia yang melepas rindu dengan pertemuan. yang terlalu mahal.

Comments