teduh

selamat sore, kita punya banyak pekerjaan rumah untuk diselesaikan. kamu punya waktu untuk merampungkan tanggal yang hampir habis ini denganku. hanya  bberapa hari sampai akhir bulan membulat  dan melebur cinta kita.
diamlah beberapa saat dsini sebelum kamu memilih untuk pergi dan mencari rumah teduh di luar hatiku. dekaplah kebersaman yang penuh angan ini agar nanti saat kita tak lagi berdua kamu tak perlu repot merindukan untuk kembali. aku tahu, rasa haru terkadang menjegal langkah kaki untuk berlari. tapi kita telah berjanji tak lagi saling menangisi.
kamu punya waktu untuk mencari dan dicari, akupun begitu. tapi waktu yang berlalu tak berarti banyak karena kita sibuk mencari celah untuk krmbali. kita menyadari tapi enggan mengakui, kita tahu tapi tak mau sakit lagi.
matamu masih coklat gelap yang dulu, tempat dimana aku selalu merasa paling berdosa kala memandangmu. bibirmu masih liat, disana Tuhan menyampaikan kebahagiaan kecil dunia yang mampu kukecap. dadamu masih tak terlalu bidang, otot tanganmu masih tak terlalu berat, tapi kekuatan itu merangkap dalam dua raga ketika kita berdekap menyatukan jiwa.
kita selalu meyakini kebahagiaan bukan milik orang lain yang sedang berucap akad dalam masjid seberang jalan. juga bukan milik orang yang tengah berdiri di altar gereja mengucap sumpah untuk bersama selamanya. bahagia adalah kita, yang telah sampai pada batas akhir membahagiakan tanpa balasan. bahkan mungkin telah melampaui keharusan untuk memberi dan membagi. ya. kita adalah kebenaran yang irasional.
senja memapah segala bentuk kelelahan agar surut di pangkuan, kurengkuh kamu dalam cinta yang selalu membara memenuhi pengap di tengah doa penuh harap. kuletakkan semua bahagia kita yang menyesakkan, kubiarkan ia menguap.
lalu kamu ada? ya ada. kamu selalu hadir memenuhi presensi.
aku tak tahu apakah akhir bulan depan masih sama tanpa bulan, aku tak mau tahu. yang pasti nafasmu masih tersisa diantara lengkungan belakang rongga telingaku, keringatmu masih membekas diantara ruas tulang belakangku. dan aku tahu, itu akan membuatmu kembali untuk mengulang bulan dengan suka hati.
habiskan bulan ini, sayang. selagi teduh masih bertengger di cakrawala, sebelum matahari mengibas surga kita.
sebelum yang belum terjadi.
*sebuah catatan yang dimulai sore hari diantara jeda jaga.
*repost krn terhapus -__-

Comments

Popular Posts