kami - kita

kami pernah belajar di satu atap sekolah bersama. memaknai angka dengan berbagai cerita. bermain dengan benda yang ada. kami merasa cukup bahagia dengan hanya berlari dan saling mengejar.
dunia tidak memasung kami dalam keterbatasan karena merekalah ibu yang surgawi memanjakan kaki-kaki kami.
kami berlarian menggapai layang-layang yang mungkin tak ingin digapai lagi, tapi kanak kami selalu memaksakan ego meski sebenarnya menyakiti telapak kaki.
setiap sore datang kami memanggul keletihan untuk dibagi dua. letihnya dua anak yang hari-harinya hanya bermain dan bermain. mengejar dan dikejar. bukan letih yang menggunung karena perasaan memiliki yang tak bisa dinilai lagi.
ketika senja makin pengap, kami mengambil start diantara dua pohon jambu di belakang rumah seorang muadzin Mushala. di sana kami bersiap adu lari siapa yang paling cepat sampai di rumah dulu. keringat yang tersisa masih terasa di kening dan lengket di baju, seakan menyuruh kami untuk tetap tinggal di tempat itu dan tak usah kembali. tapi kami selalu sadar akan keharusan untuk pulang, tak pernah terucap kata untuk tinggal lebih lama.
lalu kami berlari - lari sangat cepat. kami adalah juaranya berlari. hingga nanti akan terdengar sahutan siapa lebih dulu menginjak teras rumah.
... aku tak pernah lebih cepat dari kamu. tapi kamu tak pernah berteriak dulu, kamu selalu menungguku melakukan itu. kanakku tak pernah bertanya adakah kamu benar-benar berlari dengan lamban, tapi akhirnya aku tahu. kamu tak pernah mau membuatku menangis dan mengulang start berkali-kali.




kita diciptakan bukan untuk tinggal dan beranak. semua mengembang.
air
angin
sepatu
roda
kaki-kaki kecil


rahasia tetap rahasia. sejauh apapun kita berlari, secepat apapun kita mendaki, sekeras apapun kita bersahut.

Comments

Popular Posts