Lantai Dansa...
dengan muram kau berdansa di gelapnya malam
tanpa melodi tanpa simponi
pekat kabut kau tepis dengan lembut
hingga sesak mendadak tersulut
ada api disana
dalam kabut yang pulang berkelana
dan turun membasah ditengah pesta
membakar seluruh suasana
namun kau masih tak terpikat
langkah kakimu kau ayunkan memberat
menarik diri membelenggu hasrat
apa kau sedang sekarat?
lenganmu kau lapisi dengan jemari
sambil terus berkata "jangan lari. jangan lari......"
mulut itu sering komat kamit sendiri
mengimbangi matamu yang tak henti mengawasi
seseorang yang disana membuyarkan pikiranmu
sebuah nama dalam daftar undangan memaksamu membisu
kau tahu, dia tahu
pertemuan hanya menyisakan hati yang beku
percakapan hanya membuat kepalamu kelu
sentuhan hanya membuat tubuhmu kaku
segala macam energi terporos padanya
energi positif - energi megatif - semuanya
namun kau masih nyaman berdansa dengan kabut yang menganga
membaca isyarat malam tanpa aksara
mendengarkan musik hati tanpa irama
ragamu kau penjara
namun jiwamu masih bebas berdansa
malam melarut menjemput pagi
00.00
disekitar tempatmu merigkuk masih mengepul seberkas birahi
kumpulan yang tersisa dari ketaksopanan pagi
yang mungkin datang terlalu dini
ragu datang tak perlu bantuan
dan ragu menyekap segla macam peran
kau ingin mengatakan bosan
tapi kau tahu dunia akan segera menertawakan
maka kau pilih bertahan.
kau harus terjaga hingga fajar lagi
demi melihatnya terlelap tanpa pretensi
untuk memandang segambar tattoo di lengan kiri
untuk menikmati cintanya tanpa tendensi
"ini yang terakhir" kau berujar pada dirimu sendiri
... kenyataan yang kau puja hanya meninggalkan luka hati
... kepingan yang semakin hari semakin berduri
... kau enggan tapi tak mau pergi
... sampai kau merasakan dikhianati
ujar dirimu yang terpantul dibalik jemari
hatimu mulai kau tarik menjauh
menanggalkan selubungnya separuh demi separuh
kau sebenarnya tahu apa yang kau butuh
dan kini sampan itu siap untuk dikayuh
ya... kau terus menjauh
semakin kuat hingga yang kau temukan hanya suara gemuruh
seonggok manusia terkapar disekitarmu
diam dan masih digenangi masalalu
tenggelam dalam drama yang berdebu
dan disisi tempatmu sendiri kau temukan diri yang lain
seperti 2 gambar dalam sebuah koin
sebentar hatimu merasa linu terpilin
tapi kau sadar itulah kebahagiaan yang Tuhan jamin
lalu kedua tanganmu kau sandarkan di dahi
ritual rutin untuk mengundang para peri -
peri yang bercahaya pelangi
peri untuk mengantarmu menjemput mimpi...
01.29 pagi,
selamat malam penerang!
senang melihatmu kembali menjejak tanah dan benderang bersama dunia!
aku menggiringmu masuk untuk segera menyelesikan pertaruhan.
selamat malam....
para penaruh.

Comments
Post a Comment