kami dituntut SEMPURNA
SEMPURNA.....
OK mark it karena gue sedang agak terganggu dengan satu kata itu.
sebagai (calon) tenaga kesehatan "profesional", dengan mengucap maaf gue hrus bilang kalo
"kami tetaplah manusia dan bukan Dewa apalagi Tuhan".
kenapa?
tadi sore gue lihat tayangan berita di salah satu station TV swasta yang mengbarkan bahwa kurang lebih >>>
"....seorang anak ditelantarkan oleh pihak rumah sakit hingga meregang nyawa. tak ada dokter, perawat dan bidan yang sigap menolong sang anak saat ia tiba di rumah sakit hingga harus meninggal tanpa penanganan yang layak...."
seketika dada gue melesat, 'sakit' rasanya mendengar sang pembawa berita dengan dramatisnya membacakan berita itu. gue sebagai seorang yang menghabiskan hampir separuh pendidikan formal untuk belajar di rumah sakit merasa 'pernyataan' itu tak adil - berita itu tak adil untuk kami.
berita tadi sore terkabar dari RSUD Bekasi, Jawa Barat.
baiklah, tanpa bermaksud memberikan penilaian tanpa penelusuran lebih lanjut...
harus gue katakan kalau tak semua orang yang datang berobat ke rumah sakit itu paham dengan prosedur yang ada dan mengerti dengan sumber daya manusia yang tersedia di rumah sakit yng ia datangi.
kejadian serupa sudah menjadi hal yang sering didengar seiring dengan semakin populernya kasus-kasus yang berawal dari laporan warga bersangkutan ke 'media', bukan ke 'polisi' atau 'pihak terkait'. belum lama sempat terdengar kasus anak yang diduga korban malpraktik karena jari tangannya diamputasi, lalu ada yang melapor karena kelumpuhan yang diderita setelah pengobatan dan banyak lagi kasus-kasus yang 'diduga' sengaja dilakukan tenaga kesehatan dengan titel 'malpraktik'
gue rasa dengan gencarnya penayangan fenomena-fenomena itu.... tukang ojek, penjual bawang, pedagang koran, penjaja es kelapa muda apalagi orang sekolah juga tahu apa itu 'malpraktik' a'la kaki lima kini. dan dimata mereka semua, kami para tenaga kesehatan adalah pihak yang "wajibul 'ain" dan nomor "wahid" yang bersalah.
ya, mereka tak tahu...mereka tak pernah diberi kesempatan untuk mencari tahu dan diberi tahu. . . .
sekarang ijinkanlah gue menceritaka pengalaman yang sedikit ini, pengalaman yang gue rasa bisa menjadi bahan buat anda berpikir sebelum menjatuhkan judge pada suatu kejadian :
sebagai gambaran aktifitas yang ada di IGD rumah sakit, bisa gue ceritakan:
gue pernah jaga di IGD sebuah rumah sakit di Purwokerto. seperti yang banyak orang ketahui bahwa kebanyakan keluhan yang datang dari pasien maupun keluarga berawal dari tempat ini. pukul 02.30, hanya 2 orang 'walker' (sebutan a'la kami yang masih praktikan untuk masmas yang mengantar pasien pindah ke bangsal) yang terlihat masih sibuk memindahkan pasien dan mengisi form dari bangsal. beberapa perawat, praktikan dan co-ass masih berjaga di lobi depan IGD, beberapa di dalam dan ada yang bergantian untuk istirahat. hal itu memang lumrah dilakukan untuk menyiasati kedatangan pasien IGD yang tak bisa dipresiksi.
"jadi, kalau anda mengira tak ada yang berjaga dikala malam hari di IGD.... itu salah besar. bisa gue pastikan kalau di rumah sakit manapun, ga ada IGD yang hanya menyediakan layananseparuh hari. ataulibur saat hari-hari besar. meskipun kadang yang melek cuma satpam atau orang administrasi di lobi depan, tapi pasti ada manusia yang terjaga jam berapapun di IGD. apalagi jika disana ada praktikan atau co-ass, 100% diantara mereka ada yang standby dan kalau anda membawa keluarga atau saudara kerumah sakit pada jam-jam malam, mereka yang menerima anda akan siap untuk menjalankan tugasnya"
hal lain kembali menampar kami ketika beberapa orang yang 'mungkin' punya pengalaman buruk dengan pelayanan kesehatan kembali membenturkan antara tugas perawat dan tugas dokter.
contohnya?
ya, gue kasih ilustrasi kasus >>>
di suatu malam, seorang pasien dibawa ke IGD. jam yang paling senyap biasanya adalah sekitar jam 01.30 pagi.
pasien datang dengan perdarahan pervaginam / demam / sesak napas (pilih salah satu). dia diterima oleh perawat yang berjaga dan dilakukan pemeriksaan vital sign sesuai protap lalu perawat memberikan hasil VS pada dokter jaga ntuk segera diperiksa dan diberikan resep agar pasien dapat segera dilakukan tindakan lebih lanjut. namun dokter jaga tengah istirahat di ruang jaga, disana tengah tak ada jadwal co-ass jaga malam.
akhirnya perawat melakukan tindakan (misal): untuk mengatasi resiko kekurangan cairan akibat perdarahan (dan demam) maka dilakukan pemasangan selang intra vena dan pemberian cairan ringer laktat. saat pasien sesak napas maka dilakukan pemberian bantuan oksigenasi per nasal kanul / per facemask. tindakan dilakukan merujuk pada keadaan pasien meskipun tanpa perintah dokter.
*** perlu diingat jika tak semua rumah sakit memperbolehkan tindakan seperti ini. tak semua perawat juga melakukan hal ini. karena memang pemberian terapi medis pada pasien hanya boleh dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan dari dokter yang kompeten. perawat boleh melakukan tindakan pada pasien namun tindakan berupa "tindakan keperawatan" bukan "tindakan medis". misal: penanganan medis pada pasien dengan keluhan nyeri adalah pemberian obat, misal: ketorolax, asam mefenamat. sedangkan penanganan keperawatan pada pasien nyeri adalah dengan teknik relaksasi, distraksi, dan kompres hangat / dingin.
namun keluarga pasien masih tetap komplain karena pasien tidak diperiksa dokter atau tidak diberikan obat atau tidak disuntik.
"c'mon Babe..... read this...
siapapun dalam hal ini adalah manusia, dokter - perawat - bidan - apoteker dan semua yang bekerja didalam rumah sakit adalah makhluk yang sama dengan pasiennya.
sama - sama makan nasi dan bukan makan emas.
jika anda bertanya "kenapa cuma dipasang infus atau dikasih oksigen? kenapa ga dikasih obat?"
OK. biar saya tuliskan urutan prosedur di IGD terlebih dahulu (dan ini nampaknya berlaku di semua rumah sakit)
>> pasien datang > pemeriksaan VS oleh perawat > dokter jaga memeriksa > melaporkan hasil pemeriksaan VS pada dokter > penulisan resep oleh dokter > pengambilan obat di apotek melibatkan apoteker > tindakan > menunggu stabil > transfer ke bangsal atau boleh pulang.
pekerjaan perawat bukan ngasih obat sembarangan bahkan sekedar ketorolax, parasetamol, kalnex, ondan atau rantin. bahkan sebenarnya masang infus dan memberikan cairan RL-pun harus dengan resep dokter.
kalau lalu ada pertanyaan sinis:
"lalu ngapain kerjaan perawat kalau apa2 nunggu perintah dari dokternya?"
begini: dokter dan perawat adalah partner.
perawat bukanlah pembantunya dokter.
perawat adalah profesi dan kami berdiri sendiri sebagai satu profesi yang diakui, sama seperti dokter. kalau dokter punya program 'co-ass' untuk para dokter muda, perawat ada program ners untuk calon perawat. kalo dokter ada status 'residen' atau dokter yang lagi ngambil spesialis, maka perawat di jenjang S2 juga mengambil spesialis.
dokter tanpa perawat itu bicara tanpa aksi nyata. perawat tanpa dokter itu bertindak tanpa otak. saling mempengaruhi.
jadi sodara, saya berani memastikan apabila keadaan pasien masih mampu diatasi dengan pemberian tindakan seperti pemberian oksigen dan pemasangan infus, pasti perawat akan melakukannya tanpa menunggu perintah dokter (karena hal itu adalah tindakan yang umum diberikan sebagai pertolongan pertama di IGD).namun, tetap diutamakan dilakukan setelah pemeriksaan dokter terlebih apabila keadaan pasien urgen.
karena apakah anda tahu bahwa masih ada orang yang beranggapan "kalo belum disuntik berarti belum diapa-apain". believe it?
>> gue pernah waktu jaga, kaget lihat ada bapak2 baru dateng yang ngomel2 sama perawat jaga. usut punya usut si bapak ini dikabari sama istrinya yang lagi nunggu anaknya di IGD kalau anaknya ga diapa2in sama perawatnya. padahal dengan sangat jelas abochat no.16 sudah terpasang ditangan si anak dengan flabot RL terpasang di standar infus bed.
dan ya..... keluarga itu memang beraliran 'sesat' dengan beranggapan bahwa keadaan anaknya harus di pasang oksigen, infus line 2 jalur, DC, dilakukan tindakan RJP atau bagging atau bahkan dimasukkan ke ICU agar terlihat sudah ditangani dan diberikan pelayanan baik oleh rumah sakit?
jujur lah...... pasti diantara anda pun berpikiran demikian. benahilah sodara......"
suatu waktu, rumah sakit yang gue pake memang rumah sakit rujukan jadi jumlah pasien yang datang ke IGD kadang ga aturan. kekurangan tempat didalam IGD untuk menaruh bed dalah hal yang biasa jika pasien sdng membludak. alhasil kami biasa menempatkan pasien diluar ruang IGD (atau didepan meja lobi , tepat disamping kamar istirahat co-ass), tapi tetp dilakukan tindakan yang semestinya.
tapi lagi-lagi dengan beragamnya otak manusia yang datang ke IGD... dari mulai suaminya - istrinya - anaknya - cucu nya - canggahnya - mertua - pacarnya - mantannya - apalahnya..... ada saja yang mempermasalahkan perihal penempatan pasien.
they said
"kami bayar mbak, ga pake askes apalagi jamkes. tapi kenapa ditaruh diluar?"
OK. pertama, sebelum anda meng-copy pernyataan itu tolong dengarlah alasan dari petugas kesehatan yang memberikan informasi pada anda. masih belum puas?
kedua: anda bisa menengok sendiri ke dalam ruang di IGD apakah benar penuh jika alasan yang diberikan petugas adalah ruangan penuh.
ketiga: jika anda masih belum puas dengan pernyataan itu dan anda direkomendasikan untuk merujuk pasien ke rumah sakit lain, maka dengarkan baik2 penyampaian dari tenaga kesehatan karena ini menyangkut pasien yang anda bawa.
>>>mungkin ia hanya butuh tambahan oksigen 3 liter permenit, pengganti elektrolit tubuh dan obat pengurang rasa sakit atau pengurang perdarahan dan tak ada masalah dengan urusan penempatan. maka bertindaklah dengan arif dan rasional dan jangan egois terhadap orang sakit yang anda bawa. kadang orang yang tengah sakit tak peduli dengan tempat bagaimanapun asalkan ia mendapat penanganan yang semestinya, dan seringnya keluarga-nya-lah yang "rewel" dan suka komplain tanpa berpikir 'dewasa'.
selanjuuuutnya, jika mungkin anda masih bingung dan tak habis pikir dengan "kenapa bisa ruangan IGD penuh? apa begitu banyaknya orang sakit?"
ya, SANGAT BANYAK. kalau anda percaya:
>> saya jaga di sebuah rumah sakit rujukan di purwokerto. setiap berjaga di IGD, satu Satgas ada 5 / 6 perawat saja setiap jaga sore - atau malam. kalau jaga pagi, perawatnya bisa 8 sampai 9 orang karena mereka yang Primer memang hanya berjaga di pai hari saja. masih ditambah dengan praktikan yang tak pernah sepi. yang bareng sama gue ada sekitar 5 sampai 6 setiap jaga. dan dengan petugas sebanyak itu kami masih saja kewalahan.
what?
KEWALAHAN! bayangkan jika setiap pasien dataang dilakukan tindakan pemeriksaan VS, EKG, tindakan medis, pemeriksaan radiologi belum lagi pasien-pasien lain yang masih berada di IGD dan pemantauannya ketat. hanya itu? tindakan kegawatdaruratan tak jarang juga menemui pasien-pasien dengan keadaan terminal yang harus dilakukan bagging untuk mempertahankan kontraksi jantungnya, bayangkan jika yang di bagging adalah pasien usia 30an atau 40an, betapa "sengkleh"nya kedua tangan menahan alat bagging, atau bergantian melakukan RJP.
memang tak selamanya IGD menjadi pasarnya rumah sakit (setelah jalanan penunggu di jam kunjung pastinya). tapi kemungkinan yang sangat sering IGD penuh adalah >>> pasien tak mau dipindahkan ke bangsal karena bangsal yang diinginkan penuh. belum mudeng?
thisss....
jadi ada beberapa pasien (yang biasanya orang kaya), yang sudah memesan kamar di bangsal VIP. misal tak ada kamar yang kosong di bangsak VIP, maka ia belum mau dipindahkan. pilihan lain sebenarnya ada dengan untuk sementara menempati bangsal biasa tapi dikamar kelas 1, tapi pasien atau keluarganya tetap tak mau. tetap ngotot menunggu sampai kelas VIP ada yang kosong. masalahnya adalah kalau pasien di bangsal VIP paling cepat pulang seminggu lagi maka pasien di IGD ini akan menjadi penunggu IGD sampai seminggu kedepan (sebelum ia dinyatakan stabil dan boleh pulang).
bayangkan jika separuh pasien di IGD adalah orang-orang yang demikian.....
tak ada manusia yang sempurna, jikapun memang ada kekeliruan yang dilakukan oleh beberapa petugas kesehatan. entah itu dokter , perawat . bidan, praktikan, co-ass dan lainnya, nilailah mereka secara objektif. jangan menjadikan hal itu dasar bagi anda untuk men-judge kami dan menyatakan bahwa "rumah sakit A pelayanannya jelek" , "rumah sakit B pilih kasih". terlalu banyak manusia yang bernaung dibawah bendera satu rumah sakit dan sangat tak adil jika mereka semua menjadi korban dari segelintir oknum yang tak memuaskan anda.
jadi sodara......
wajarlah jika kami 'para' petugas kesehatan merasa 'sesak' dengan pemberitaan yang menyudutkan posisi kami.
disaat pasien datang kerumah sakit dengan harapan yang sangat besar dan tindakan yang dilakukan petugas tak sesuai dengan harapan, maka kami dibilang 'tak profesional' , 'malpraktik' , dan 'melanggar HAM'.
disaat pasien datang kerumah sakit dengan harapan yang besar dan pulang dengan kesembuhan, kami ada dimana? dokter yang memantau secara kontinue, perawat yang memberikan perawatan 24jam, petugas kebersihan yang membuat ruangan pasien nyaman, apoteker yang melayani kebutuhan obat, petugas gizi yang memenuhi kebutuhan asupan nutrisinya sesuai diit dari ahli gizi, bahkan nama rumah sakit dimana pasien dirawat...
dimana semua itu ketika seorang pasien pulang dengan kesehatan yang pulih???
TAK ADA! semua itu HILANG, karena merekamenganggapituhanyaSEKEDAR pelayanan dan KEWAJIBAN kami SAJA.
lebih dari itu semua, lebih dari sekedar kewajiban.
KAMI MELAKUKAN SEMUA DENGAN TANGGUNG JAWAB MORAL.
TERHADAP DIRI KAMI SENDIRI,
TERHADAP PASIEN,
DAN
TERHADAP TUHAN.
TANGGUNG JAWAB KAMI ADALAH TANGGUNG JAWAB SECARA VERTIKAL DAN HORIZONTAL.
sodara.....
Tuhan menciptakan manusia dengan jatah hidup masing-masing yang telah digariskan. tak ada yang tahu apakah dengan berobat ke rumah sakit akan menyembuhkan atau malah memperprah penyakitnya.
tak ada juga yang tahu apakah ia akan pulang dengan sehat atau malah pulang tinggal nama. tak para dokter, perawat, apoteker, walker, bidan, office boy, petugas gizi, tukang parkir, juru masak, atau penjaga mushola.
hanya Tuhan yang tahu.
apa semua orang yang masuk rumah sakit pasti sembuh?apa selamanya orang yang keluar rumah sakit dalam keadaan tanpa nyawa maka beberapa orang akan mengutuki rumah sakit?
please, dont jugdge us subjectively.
salam hangat dan penuh cinta,
Perawat

Comments
Post a Comment